Nasib Pengrajin Kulit di Garut Banyak yang Alih Profesi

4 Mar 2016

Siapa tidak kenal sentra industri kerajinan kulit Sukaregang Garut? Beragam produknya tidak cuma menyebar di banyak daerah di Indonesia tetapi juga mancanegara.

Industri kulit Sukaregang tidak cuma jadi ikon Garut, tetapi telah ikon Jawa Barat bahkan juga Indonesia. Meski sampai saat ini masihlah diselimuti beragam pro-kontra, terlebih menyangkut pengelolaan limbahnya yang tidak juga teratasi.

Tidak heran, kehadiran sentra industri kulit Sukaregang senantiasa mengambil alih perhatian pemerintah. Terlebih hadapi masa pasar bebas Orang-orang Ekonomi ASEAN (MEA) saat ini.


Tetapi tidak sering orang tahu, kehadiran entrepreneur serta pengrajin kulit asal Garut, terutama Sukaregang, makin terpinggirkan. Tidak sedikit diantara mereka yang awal mulanya bergelut di usaha kerajinan kulit pada akhirnya berpindah profesi lantaran terlindas pemodal besar yang malah bukanlah warga Garut.

Warga Garut yang bergelut di usaha penyamakan kulit saat ini cuma tinggal sekitaran 25%. Selebihnya dikuasai entrepreneur luar Jawa Barat serta nonpribumi. Itu juga usaha penyamakan kulit besar dengan aset sekitar Rp25 miliar ke atas. Sedang usaha penyamakan kulit bermodal kecil telah banyak yang gulung tikar.

Lebih ironis lagi, usaha perdagangan product kerajinan kulit juga dikuasai entrepreneur luar Jawa Barat. Ruko atau showroom tempat berjualan yang mereka menempati juga bukanlah punya sendiri, tetapi menyewa dari orang luar.

” Umumnya telah beralih tangan ke entrepreneur asal luar Jawa, bahkan juga warga asing, termasuk juga Jepang serta Korea. Terlebih yang kecil-kecil, telah pada bangkrut, ” kata tokoh orang-orang Sukaregang yang juga entrepreneur kulit Asep Komaruddin Anda, Jumat (19/2/2016).

Lantaran usaha penyamakan serta kerajinan kulitnya di jual ke pihak lain, lanjut Asep, tidak sedikit diantara mereka beralih status dari yang memiliki jadi pegawai. Yang memprihatinkan, umumnya berpindah profesi ke pekerjaan dengan pendapatan tidak menentu, seperti jadi tukang ojek.

” Penyamak kecil banyak yang bangkrut lantaran jadi korban penipuan. Terlebih mata rantai perdagangan bahan kulit terpotong dengan timbulnya pedagang kulit dari luar yang segera datang dari sentra-sentra penghasil bahan baku kulit. Seperti dari Sumatera, Kalimantan, serta Maluku, ” kata Asep.

Asep mengakui, umumnya dapat menghadirkan sekitaran 40 ton bahan baku kulit dari luar Jawa ke Garut. Tetapi saat ini usaha itu tidak jalan.

Tidak kurang memprihatinkan, katanya, beberapa puluh toko serta showroom product kerajinan kulit yang berjajar selama Jalan Ahmad Yani serta Jalan Gagak Lumayung saat ini didominasi entrepreneur luar Jawa Barat. Itu beberapa besar menyewa pada yang memiliki yang malah nonpribumi dengan harga sewa sekitar Rp25 juta-Rp50 juta per unit per th..

” Ada sekitaran 100 showroom dipunyai nonpribumi. Bila harga sewa rata-rata Rp25-Rp50 juta per ruko per th., totalnya sekitaran Rp2, 5-5 miliar per th.. Adakah konstribusinya pada kas daerah? Masuk atau tak pajaknya? ” bertanya Asep.

Menurut Ketua Paduan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kabupaten Garut itu, keadaan sentra industri kulit Sukaregang berlangsung mulai sejak sekitaran lima th. paling akhir.

” Yang juga jadi keluhan warga, kehadiran pabrik penyamakan kulit itu tidak ada konstribusinya pada orang-orang yang terserang limbah. Termasuk juga yang memiliki ruko product kulitnya. Sarana IPAL (Instalasi Pemrosesan Air Limbah) juga di bangun pemerintah, serta sebenarnya tidak ada yang jalan. Air limbah bebas saja dibuang ke sungai, ” katanya.

Dia menyatakan, bila masalah industri kulit Sukaregang tidak juga memperoleh jalan keluar, tambah baik sentra industri kulit itu dipindahkan ke daerah lain.

Kepala Bagian Pendapatan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan serta Aset (DPPKA) Kabupaten Garut Mardianto membetulkan tak ada pemasukan pajak dari industri kerajinan kulit Sukaregang pada kas daerah. Sebab usaha itu masuk kelompok industri rumahan.

” Paling yang masuk ke kas daerah itu cuma PBB (Pajak Bumi Bangunan), ” katanya.

Jumlah usaha tekstil serta kulit di Garut sendiri berdasar pada pendataan Tubuh Pusat Statistik (BPS) Garut pada 2015 meraih 1. 399 unit, dengan keseluruhan jumlah tenaga kerja sekitaran 10. 743 orang.


TAGS kerajinan kulit


-

Author

Follow Me